Tuesday, June 9, 2026

Izin.

Sebelum nulis sesuatu tentang ulang tahun, gue pengen nulis tentang gimana enegnya gue dengan kata "izin".

Izin saya menyampaikan...

Izin, Pak... terkait hal tersebut...

Mbak, izin saya...

Izinkan saya untuk mengucapkan terima kasih...

Seinget gue, kata-kata izin ini mulai merasuki pas pandemi saat kita mau permisi ngomong di dalam diskusi online. Maksudnya biar ngga rebutan ngomong. Yang bikin gue gemes adalah, pandemi selesai dan habit untuk bilang izin itu ngga selesai juga. Malah makin parah. Mau cuti aja izin. Padahal cuti itu hak lo sih. Selama disampaikan jauh-jauh hari dan ada jaminan kerjaan beres sebelum D-day, cuti mah cuti aja.

Tapi kata temen gue, bilang izin itu gesture kesopanan. Memang iya, tapi menurut gue sopannya kebablasan sampai ke orang yang ngga punya otoritas atas diri lo, lo juga minta izin.

Berapa kali kita ngomong izin untuk mengutarakan pendapat di mana tugas kita memang untuk memberikan pendapat?

Berapa kali kita ngomong izin untuk pulang, padahal working hours udah selesai dan kita udah menyelesaikan semua pekerjaan kita.

Berapa kali kita ngomong izin di awal chat untuk minta review pekerjaan dan langsung kita susul dengan long text atau link dokumen yang perlu direview tanpa menunggu balasan diizinkan atau tidak.

Izin untuk tidak available.
Izin untuk melakukan sesuatu.
Deep down, saat kita ngomong izin, kita tau kita tidak butuh approval dari mereka.

Kalau udah gini, seperti biasa pikiran gue jadi ngelantur. Awalnya gue mencoba cari tau kenapa gue ngga suka dengan kata-kata izin itu, sampai akhirnya gue mikir: Kita ini orang Indonesia apa-apa izin apa-apa permisi, tapi kekurangan untuk bilang maaf, terima kasih, apalagi tolong. Kita itu doyan sama hirarki yang mengkerdilkan diri sendiri.

Jadi mohon maap kalo saya mah ngga izin-izin tapi langsung saja FYI. Tapi izin, ngga ada foto untuk postingan ini :D

Saturday, May 23, 2026

The kind of night you wish you could rewind...



May 5th, 2026.

Hari itu rasanya kayak hari yang produktif dan berasa muda lagi. Rasanya seperti pulang kerja/kuliah lo nongkrong tapi ngga dalam keadaan capek. Bukan seperti nongkrong after school yang ngga usah mikirin ada PR atau nongkrong after office yang rasanya mpet. Ngga, ini tuh nongkrong happy karena nonton konser band kesukaan lo.

Malam itu kita berlima jalan kaki sambil payungan ke Funan sebelum ke Capitol. Ngga tau kenapa malam itu banyak banget ngga konsensus. Pertama, karena hujan, awalnya kita tunjuk-tunjukkan siapa yang bawa payung dan mau pegang payungnya pas konser. Akhirnya karena ngga ada yang mau, kita jadinya "Ya udah semua bawa payung sendiri-sendiri. Urus sendiri hidup lo!" Kedua, pas di Funan juga ngga sepakat mau makan apa. Akhirnya, "Ya udah, urus perut masing-masing!"

Ketiga, satu jam sebelum konser:
"Duh gue pengen boker!"
"Boker sini aja, supaya nanti langsung masuk ke teater."
"Mending boker di sana aja, toiletnya lebih mewah."
"Yang mana yang ada bidetnya?"
"Mana gue tau!"
"Udah lah gue beli air dulu."

Sekitar jam 7 waktu open gate, kita masuk dan masih ngeributin juga mau berdiri di mana. Karena masuknya cukup awal, festival masih kosong yang bikin kita ngerasa punya alternatif mau berdiri di mana. Hari itu kalau ngga ada yang diributin pokoknya rasanya kurang lah!

Tapi jaaaauuuuh di atas itu semua, gue pengen banget ngulang satu jam plus-plus nonton Dashboard Confessional. Teriak-teriak nyanyi, dancing bego karena yakin ngga ada yang ngeliatin, nonton konser boleh minum, dan satu show itu khusus untuk DC aja. Shownya itu rasanya "pas". Setlistnya pas. Durasinya pas. Musiknya pas. Space di festival standing juga pas. Tapi pengen banget diulang. Bukan karena ngga puas, tapi karena hari Selasa itu ditutup dengan perasaan yang sueeneeeeenggg buangeeet!

BTW gue jadi inget ya, tahun 2022 gue juga sempet mau nonton DC di Jakarta, tapi sikontol Gudfest cancel eventnya dan sampai sekarang belum refund tiket gue. Jadi jeda gue nonton DC adalah 16 tahun, dan seneng banget akhirnya kedapetan solo show, di Capitol pula!

Aaaaaahhh gimana ini! Pengen banget ngulang nyanyi teriak-teriak, apalagi pas bagian MAKING AAAAWWTTT!!

Saturday, March 28, 2026

Just going through it, (not) gently.



Somewhere between rushing and choosing me.

Salah satu tweet yang menyadari gue gimana hidup ini udah beda banget dari zaman gue kecil adalah pertanyaan "Sebelum ada handphone, orang dulu (mungkin refer to Gen Millennials and older) kalau nunggu angkot sambil ngapain ya?" I was like YA NUNGGU AJA GITU DI BALIK POHON POKOKNYA YAKIN KWK S11 BAKAL DATENG.

Trus gue mikir... jir, udah lama juga ya "dulu itu". Dan dulu gue oke-oke aja nunggu angkot di pinggir di jalan (walau jarang naik angkot sih). Tapi sekarang kalo nunggu taksol dari dalem rumah aja udah melototin handphone sambil misuh-misuh EMANG MACET YA KOK JALANNYA LELET BANGET?

Gue juga inget, zaman dulu itu kalau janjian ngeceng jam 5, kita ngga akan bikin agenda sebelumnya supaya bisa kumpul jam 5 di titik yang dijanjiin. Sekarang, sebelum jam 5 itu kita bisa memperkirakan pakai maps apakah kita sempet belok dikit untuk ngedrop laundry dulu, nganterin ortu dulu, ambil nomor antrean untuk dinner via apps, dan lain-lain... lain-lain... yang akibatnya jam 5 pada belum ngumpul.

Selalu ada kesibukan dalam masa "in between" sehingga diam atau menunggu itu ngga normal lagi untuk sebagian orang. Tapi apakah kita sering memprioritaskan kewarasan kita dalam masa "in between" itu?

Reckless, but I just went for it.

Gue inget kata-kata gue waktu gue merasa dukungan untuk menjalankan pekerjaan/role gue itu dikit banget. Justru banyak terjadi hal-hal yang malah mengganggu gue. Siang itu gue bilang ke bos gue, "Tahun 2026, terserah yang lain mau gimana. Gue akan selesaikan bagian gue dengan cara gue."

Tahun 2026 sudah selesai satu quarter, but it seems they normalized the pressure. So I've decided to stop pretending.

Also, New Jersey Devils suck. Next.

Coffee first, everything else later.

Gue mulai bisa memilah-milah mana yang penting untuk sisa kapasitas di otak gue dan kewarasan gue setiap harinya. Ternyata memprioritaskan diri sendiri itu... ENAK!

Tuesday, February 17, 2026

So... last year I was diagnosed with high-functioning depression.

Tulisan ini ada di draft bulan September 2025...

Dari dulu kan orang selalu nge-remind kalau urusan kantor (kerjaan) jangan dibawa ke rumah dan juga sebaliknya ya (a.k.a penyebab pasutri cekcok) tapi makin ke sini gue makin bingung gimana caranya woeee? Mayoritas waktu kita berotasi di dua lingkungan itu, jadi butuh mental dan wisdom seperti apa supaya keduanya ngga bercampur-campur?

Gue sering denger cerita kalau masalah finansial bisa menimbulkan "strain" pada diri kita yang berujung pada kondisi rumah yang ngga harmonis, ujung-ujungnya bikin ngga konsen di kantor karena jadi demotivasi. Gue ngga tau gimana ngedeskripsiinnya, tapi menurut gue masuk akal banget kalau kita pindah kantor untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi dengan harapan memperbaiki kondisi finansial rumah.. harapannya kondisi finansial membaik akan membuat kondisi rumah juga membaik.

In my case, yang diserang saat ini bukan pundi-pundi, tapi personality. Beberapa bulan terakhir ini gue kayak ngga jadi diri sendiri di pekerjaan dan di rumah. Gue ngga merasa stress atau tertekan, tapi udah selama itu gue ngga menjadi diri gue sendiri.

Di kedua tempat itu, gue seperti ngga diperlakukan seperti yang seharusnya. Treatment apa yang gue harapkan sebagai orang yang hampir berusia 40 tahun di rumah dan 17 tahun berkarir di kantor? Gue juga ngga tau. But at this point, gue merasa: harusnya ngga begini, tapi harusnya gimana juga gue ngga tau.

Gue ngga banyak mencerna perasaan dan pemikiran-pemikiran ini karena udah lama juga gue berhenti journaling. Atau lebih tepatnya, gue ngga mau journaling tentang kondisi ini karena gue ngerasa takut ngehadapin apa yang pelan-pelan bisa ditemuin dengan journaling. Lebih baik sekarang diem dulu, jalanin dari hari ke hari dan berharap suatu hari turun aja gitu jawabannya. Which is impossible dong ya? Hidayah aja ngga dapet-dapet, gimana jawaban hidup?

Apakah ada yang namanya personality stroke? It's like role strain and burnout at the same time. Stroke aja gitu, gue diem ngga tau mau jadi apa. Tapi herannya, di sisi lain gue tetep produktif (at least gue merasa gitu). Atau emang gue burnout?

Yang pasti gue merasa kosong... jauh dari diri sendiri.


17 Februari 2025...

Akhirnya gue curhat... berusaha mencari jawaban apakah yang gue rasain normal untuk orang yang berada di posisi gue. Curhatnya ke psikolog. Pake duit.

Gue ceritain dari A sampai Z dan ikutin probing-probing dari beliau juga. Setelah beberapa sesi, beliau cukup yakin gue kena high-functioning depression. Gue mendapatkan diagnosis itu bulan September 2025. Immediately, gue bingung ini gue mesti apa ya? Apakah gue harus langsung mengambil keputusan besar, atau gue abaikan aja daripada lebay.. atau ngapain?

Besoknya gue langsung ambil diary kosong (yang memang selalu ada untuk cadangan journaling) dan gue cuma nulis satu paragraf "penerimaan" bahwa gue terserang high-functioning depression. Surprisingly, gue langsung merasa lebih lega dan nyadar kalau satu-satunya yang bisa kita kendalikan ya diri kita sendiri. Jadi seperti timbul awareness baru meskipun gue masih bingung gimana acceptance itu membawa gue ke kondisi yang lebih baik.

Gue ngga bisa kendalikan kantor. Gue ngga bisa kendalikan rumah. Selama itu involve orang lain, gue ada di sebuah sistem di mana gue harus kompromi, berdialog, nurut, atau terpaksa merasakan sesuatu. Tapi dengan kesadaran, kita bisa kendalikan untuk kalem, marah, menerima, menolak, jujur, bohong, atau menghindar sekalian.

Dalam 6 bulan ini gue juga belajar bahwa "Gue" dan "Fungsi" adalah dua entitas yang berbeda. Gue jadi inget quotenya Rene Descartes: "I think, therefore I am", bedanya gue selalu merasa I function, therefore I am.

Coba jawab untuk diri sendiri: Kalau gue ngga berguna, gue masih boleh ada ngga?

Tanpa gue sadari, gue merasa dalam social setting (termasuk pekerjaan) gue dipertahankan karena gue berfungsi. Which is aneh sebenernya, karena gue bekerja dalam kekecewaan setelah gue diminta untuk bikin surat resign hanya karena alasan administratif. Kekecewaan gue, gue salurkan dalam pembuktian seperti: Nih, gue tetep bisa kontribusi loh terlepas apa status gue!

Psikolog gue, merasa kondisi tersebut bikin makin runyam. Yang mana dalam kehidupan berorganisasi, kan ada masanya strategi perusahaan ngga selalu align dengan harapan lo ya, sehingga gue sering dihadapkan oleh fight or flight mode, yang mana ngga ideal banget because, according to him... "They don't deserve you, May..."

Ouch!

Lalu di rumah, akhirnya gue menjadi tidak berfungsi. Masalah itu kebawa-bawa sampe di rumah. Gue udah capek, maunya tidur, ngga mau ngobrol, chat sama temen-temen di WhatsApp karena "bisa ngobrol tapi sunyi" membuat gue menjadi orang yang tidak baik dan tidak berperan di rumah. Dan ketika gue ke luar rumah pas weekend, gue menjadi orang yang baik-baik aja kayak ngga punya masalah di weekdays-nya.

Because apa? Because gue harus jadi temen yang baik dengan tidak membawa energi buruk pas kita lagi kongkow-kongkow dong!

Ribet kali yah hidup ini.

Apa jadi gemini, anak sulung perempuan, cucu perempuan pertama itu tak cukup ribet?

So, hari ini, membaca apa yang gue curhatkan di draft atau di journal, kemudian ngelanjutin nulisnya (dan moga-moga berani untuk publish), gue pengen bilang, enam bulan ini gue lagi belajar: gue ada, bahkan saat gue tidak melakukan apa-apa. Gue belajar itu bukan untuk stop jadi orang yang produktif dan stop berkontribusi. Justru gue sedang menyelamatkan produktivitas jangka panjang gue.

Let's say sebuah handphone. Value handphone tidak ditentukan dengan jumlah aplikasi yang lagi jalan. Handphone juga tetep handphone pas layarnya mati. Justru kalau ngga pernah dimatiin/restart, performance handphone bakal turun, panas, akhirnya cepet rusak.

Gue bukan berhenti jadi handphone karena layar mati.
Gue cuma berhenti memaksa layar nyala terus.

Bulan September lalu gue merasa yang terganggu adalah personality gue. Ternyata, personality itu cuma salah satu alat. Personality itu cara manusia bertahan. Manusia itu yang tetap ada, bahkan saat semua cara bertahan udah runtuh.

Friday, January 16, 2026

Pausing…


Returning to a place that feels familiar and safe to me, however, this time I chose to experience it in a different way, only to clear my mind. Allowing myself to slow down, to observe more, and to try things that felt slightly uncomfortable. Being in a familiar environment while doing unfamiliar things helped me feel grounded, yet open. It reminded me that change doesn’t always require a completely new place, but a new way of seeing.

What happened last year, and two, three years ago, made me realise that stepping away from routine is not about escaping responsibility but about creating space for reflection. When we pause and break small patterns, we give ourselves permission to be honest about our needs and fears. In that space, inspirations feel more natural and decisions feel more personal.

Sometimes, becoming yourself begins with short distance, from routines, from expectations, and from the noise that keeps you from listening inward.

Sunday, December 28, 2025

Bye 2025... :')

Meskipun banyak hal yang harus disyukuri dan dirayakan, gue akan mengingat tahun ini sebagai tahun yang paling jelek. Bulan ini gue cerita ke RG, ke sepupu gue, ke temen-temen deket gue tentang gimana ketakutan gue kalau ada "dendam" yang carryover ke tahun 2026. Gue belum menemukan solusinya, tapi Desember masih 3.5 hari lagi, dan semoga gue dipertemukan dengan sesuatu yang bernama "tenang".

Hal paling lucu dari tahun ini adalah gimana gue dan temen-temen gue yang pada pushing forty mengalami tantangan yang mirip-mirip walaupun kantornya beda, pekerjaan beda, jabatan beda, bidang usaha juga beda... Aduh kayaknya seru kalau ditulisin satu-satu dalam Coffee Talk. Intinya we met up to just say, "This is shit.. straight-up shittiest-ever shit!". It hits different now we're all creeping into our 40s and suddenly it's not just about surviving the deadlines or dealing with chaos, it's about realizing time is actually moving and the people around you is evolving. And in the middle of all that, I, personally, still can't shake this feeling of unfinished business.

Anyway, everything else is good. Love, family, friends, all that (so work can fight itself 😭). The rest of the year held me together.

Until later! Here are some photos I took this year (and some from last year).















Saturday, August 23, 2025

Tas Gue Berat BANGET.


Shiok juga setelah tau kalau berat bawaan gue kantor hampir 4,5 kg (he eh barusan nimbang pakai timbangan kopi). Don't judge me yah, tapi belakangan ini gue risih dengan bawaan gue sendiri karena dirasa berat banget. Di usia yang menjelang 40 ini, banyak perubahan di badan gue yang bikin gue nyeletuk "Njir, dulu kayaknya ngga masalah deh!" Salah satunya tentang berat dari gembolan gue ini.

Kebetulan aja di awal tahun gue ganti laptop dari kantor, jadi sekitar 95% gue menyalahkan laptop ini. Padahal setelah dihitung, beratnya cuma beda 200 gr dari macbook air gue. Buat yang sehari-hari pakai kendaraan pribadi, harusnya kan no big deal ya.. tapi 2 bulan terakhir gue tuh selalu "Njir berat bangetttt!" So, gue timbanglah semua bawaan gue.

Emang sih selisih laptop kantor dari macbook air cuma 200 gr ya, tapi setelah diakumulasi dengan isi tas lainnya, perbedaan kecil itu lumayan ngedongkrak total dari berat shoulder bag gue. Meski misalnya gue pisah antara shoulder bag dan laptop bag (jadi kiri-kanan gitu bawanya), tetep aja kalau ngga dikurang-kurangin, setiap ngantor tu gue bawa barang yang beratnya 10%-an dari total berat badan gue.

Beberapa barang yang beratnya signifikan itu pastinya device. Gue hampir selalu bawa iPad karena sekarang udah take notes dan diskusi di iPad. Trus Kindle yang dengan casing flipnya somehow jadi 200-an gr. Belum lagi makeup pouch yang kecil tapi rapet banget isinya ada 2 lipstick dan 1 perfume travel size. Dan sebelnya, bag organizer itu ternyata ada beratnya sendiri!

Lalu pas gue lagi capek dan laptop gue nge-hang, gue marahnya sambil nunjuk laptop, "Njir, lu yah, udah berat nge-hang lagi!" (Oh ya, lupa mention kalau laptop kantor gue ini sizenya juga bulky.. pokoknya emang tipe culprit bawaan berat lah)

Padahal, masalahnya adalah kombinasi barang-barang emotional support gue macam Kindle yang belum tentu dibaca di hari kerja, tisu basah + tisu kering yang kalau ketinggalan bikin gue anxious, rheuma-salve yang botolnya kaca sebagai perwakilan kejompoan gue.

Kalau gue kuliah ya, bawa iPad atau macbook aja cukup. Barang-barang emotional support bisa gue kurangin karena gue tau kapan akan butuh mereka dan kapan bisa ditinggal. Tapi kalau ke kantor, gue tu rasanya anxious banget kalau ada yang kurang. Gimana kalau nanti gue pusing ngga ada obat? Gimana kalau nanti ke kantor klien naik taxi trus drivernya bau trus gue ngga bawa young living peppermint? Gimana kalau abis makan ada yang nyangkut dan dental floss gue abis? Gimana kalau nanti pulang naik MRT trus gue ngga bawa Kindle buat bacaan (btw gue ngga suka buka handphone di public space)? Gimana kalau ini dan itu??? Fawkkkk!

Dan itu semua berakumulasi menjadi 4,5 kg.

OH! Dan berat itu belum termasuk barang lainnya yang biasa dibawa orang-orang yang biasa naik kendaraan umum, seperti payung/jaket, air minum, dan power bank.

Sebelum pagi ini gue menghitung berat tas gue, gue cuma bayangin beratnya sekitar 3 kg dan gue udah mikir, "Damn ngga waras nih kalau bener-bener sampai 3 kg!" Dan ternyata beratnya lebih dari itu. Fix diketawain timbangan sih gue!!!!

Untuk kepentingan diri sendiri baik fisik dan mental, gue mesti men-terapi diri gue sendiri untuk meninggalkan barang-barang emotional support sih... Not ready doing that but yeah, definitely gonna do that.

Stay healthy, all!

Tuesday, July 8, 2025

Popotoan.

Tau ngga, harga film/refill Instax mini yang polos, sekarang sekitar Rp145.000,-? Sebagai penggemar Instax, gue cukup sakit kepala... apalagi kalau ngebanding-bandingin sama harga pertama kali beli yang masih di sekitaran Rp60.000,- Sebel sih, tapi mau berhenti "mainan" Instax juga susah kayaknya..

Buat gue, Instax itu must have (padahal ngga must-must amat, yakin gue!!!). Limitasinya Instax itu besar banget, terutama untuk nge-grab scenery ya.. ibaratnya kita foto di Kebon Binatang Ragunan sama London ngga kelihatan jauh bedanya. Tapi kan selain Instax itu lucu, hasilnya selalu surprising dan ngejepretnya satisfyiiiing. YA KANNN? PAHAM KAAAN?

BTW, ngomongin perfotoan, untuk yang suka foto ala film, filter, atau vintage, coba download dan bayar Old Roll deh. Alasan gue pakai Old Roll itu karena gue pengen banget Yashica Digifilm y35, tapi setelah baca-baca, ternyata konsepnya cenderung gagal lalu discontinued. Akhirnya download dan bayar photo app aja (waktu itu Old Roll masih Rp69.000,- untuk lifetime; ngga mau tau sekarang berapa!!), jadi ya basically gue download dan bayar satu kali untuk akses filter dan effect cameras di dalamnya. Sejauh ini udah lebih dari 3 tahun pakai Old Roll dan belum diminta untuk pay-for-upgrade kayak si Goodnotes yak.


Sekian dan terima film Instax gratis.

Sunday, September 15, 2024

Angin Ribut.

(Long) weekend ini banyak yang mesti gue kerjain. Mesti packing karena mau temporary pindah selama atap rumah direnov, ngejar materi online learning, selesain baca novel yang gue mulai 2 minggu lalu, cicil dokumen perpanjangan KITAS-nya RG, dan berbagai kerjaan lainnya yang ngga gampang/cepet juga untuk dikerjain. Tapi seperti biasa, semakin banyak yang mesti dikerjain, kepala gue malah ribut sendiri dan gue berakhir ngerjain sesuatu yang ngga ada di to-do-list.

Pagi ini, gue bangun langsung ngecheck website NHL dan NJ Devils untuk check schedule preseason dan regular season. Eh malah dapat info kalau 2 young defencemen pada injured di akhir off season ini (sebagai fansnya NJ Devils dan Detroit Tigers gue udah lumayan imun sama bad news lah). Dari pada overthinking sama season opening, akhirnya lihat cuplikan-cuplikan Prospect Challenge semalem yang lumayan bikin happy. Abis itu lanjut scroll TikTok, trus malah headache beneran dengerin cara ngomong orang yang (menurut gue) susunan katanya susah banget gue pahamin. Akhirnya gue turun ke bawah untuk sarapan.. dan apa yang gue masukin ke mulut juga ngga puguh: hot dog, asinan, ditutup dessert konyaku.

Siangan dikit, gue lanjutin lagi packing sambil minum es-kop-sus. Gue packing sambil buang-buangin barang/baju supaya nanti lebih gampang unpackingnya. Ketemulah satu box yang isinya foto-foto zaman gue SMA beserta negative filmnya. Zaman sekolah dulu, gue sering bawa tustel ke sekolah. Di tengah-tengah kelas satu, masuk era digicam dan bapak gue beli satu. Walaupun mulai foto-foto pakai digicam, gue dan temen-temen masih suka cetak supaya dapat satu-satu fotonya. Dulu biaya afdruk dan cetak itu bisa sekitar Rp75.000-90.000,- satu rol, atau cetaknya sekitar Rp2.000,- per lembar. Duit jajan gue dulu Rp10.000,- per 3 hari. Gue termasuk orang yang ngga pernah bisa nabung, karena kalau punya uang pasti gue pake buat urusan foto-foto-an. Fast forward ke 22 tahun kemudian, hasil foto-fotoannya jadi satu box yang selalu gue tengok kalau gue lagi beres-beres.

Saturday, September 14, 2024

100% Lip Balm Maximalist.

Sekitar dua bulan terakhir ini, gue dan seorang temen gue sibuk ngomongin lip balm melulu gara-gara setelah 37 tahun, temen gue ini baru ngerasain pake lip balm itu NYAMAN. Gue juga termasuk yang telat nyadarin hal itu sih (kalau berdasarkan yang gue tulis di sini [link], gue baru nyaman pakai lip balm setelah kena angin di London, yang artinya tahun 2017 waktu usia gue 30), tapi berarti temen gue lebih TELAT LAGI HUEHUEHUEH... Dia positif banget kena hype lip balm yang glossy cum plumpy cum hydrating cum tinted gitu sih, tapi sebagai teman, gue suportif aja. YA TRUS MAKIN MENJADI-JADI DEH HUBUNGAN GUE DAN LIP BALM alias udah sekitar 4 bulan gue jarang banget pakai lipstik.


Lip balm tu gue bawa ke mana-mana ya, mana sekarang gue sukanya pakai lip balm yang di tube (squeeze), jadi temen gue sempet surprised dikira gue tenteng-tenteng vape karena bentuknya mirip. Lip balm tube itu lucu karena bisa gue hias dan jadi bag charm atau key chain IYA HE'EH #TIKTOKMADEMEDOIT. Tapi sesungguhnya gue cuma punya 2 lip balm tube karena lamaaa banget habisnya (lebih lama habisnya daripada yang stick). Jadi untuk menyalurkan kegemaran gue menghias-hias tubenya lip balm, maka gue hias lah punya temen-temen gue jadi begini: